terbit.id, Sukabumi - Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMAN 1 Cibadak, Kabupaten Sukabumi, ditutup dengan aksi ekologi yang melibatkan ratusan peserta didik baru bersama berbagai unsur masyarakat, Jumat. Kegiatan ini menjadi implementasi Surat Edaran Gubernur Jawa Barat tentang penguatan pendidikan karakter melalui aksi nyata menjaga lingkungan sekaligus menanamkan nilai-nilai Pancawaluya kepada para siswa.
SMAN 1 Cibadak menutup rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Ajaran 2026/2027 dengan menggelar aksi ekologi yang dipusatkan di kawasan Geyser Cipanas dan Jembatan Garuda, Kelurahan Cibadak, Kabupaten Sukabumi. Kegiatan tersebut melibatkan seluruh peserta didik baru bersama TNI, Polri, Muspika, komunitas lingkungan, hingga masyarakat setempat.
Kepala SMAN 1 Cibadak Isda Sugara menjelaskan, aksi ekologi dipilih sebagai penutup MPLS karena merupakan tindak lanjut Surat Edaran Gubernur Jawa Barat yang mendorong sekolah melaksanakan kegiatan berbasis lingkungan sebagai bagian dari pembentukan karakter peserta didik.
"Alhamdulillah, penutupan MPLS ini kami laksanakan sesuai dengan Edaran Pak Gubernur, yaitu melalui aksi ekologi. Ini merupakan wujud nyata penanaman karakter kepada murid-murid baru agar memiliki karakter unggul Pancawaluya, yaitu cageur, bener, pinter, dan singer," ujar Isda kepada terbit.id Selasa (21/7/2026).
Menurutnya, aksi tersebut bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi menjadi sarana membiasakan siswa menjaga kebersihan, kerapihan, dan kenyamanan lingkungan sejak awal memasuki dunia sekolah.
Ia menambahkan, kegiatan itu juga menjadi latihan nyata agar peserta didik memiliki kepedulian terhadap lingkungan sekaligus menumbuhkan sikap disiplin, mandiri, dan bertanggung jawab.
Dalam pelaksanaannya, sekolah menggandeng berbagai pihak, di antaranya komunitas Cisadane Resik, Pandawa 05, Muspika Kecamatan Cibadak, TNI, Polri, KNPI, Karang Taruna, Puskesmas Cibadak, serta unsur masyarakat lainnya.
Aksi ekologi dipusatkan di kawasan Geyser Cipanas yang berada di bawah lingkungan sekolah serta sepanjang Jembatan Garuda yang menjadi akses penghubung menuju Kampung Bojong Jagal, Bojong Koneng, dan permukiman lainnya.
Lokasi tersebut dipilih karena menjadi jalur yang setiap hari digunakan banyak siswa menuju sekolah.
Selain mengenalkan lingkungan sekitar sekolah, kegiatan itu juga bertujuan agar para siswa memahami pentingnya menjaga fasilitas umum yang mereka manfaatkan setiap hari.
Berbagai kegiatan dilakukan dalam aksi tersebut, mulai dari penanaman pohon, pengecatan akses jalan, hingga kerja bakti membersihkan lingkungan.
"Alhamdulillah terkumpul kurang lebih 50 trash bag sampah. Nantinya sampah tersebut akan diangkut oleh Dinas Kebersihan melalui Kelurahan Cibadak," katanya.
Sebanyak sekitar 500 bibit pohon juga ditanam oleh para siswa baru. Jenis tanaman yang ditanam terdiri atas tanaman produktif seperti alpukat dan rambutan, serta tanaman keras seperti mahoni yang diharapkan mampu menjaga kelestarian kawasan sekitar.
Pihak sekolah menjelaskan bahwa jumlah pohon yang ditanam disesuaikan dengan jumlah peserta didik baru sehingga setiap siswa memiliki tanggung jawab terhadap pohon yang ditanamnya.
Selain menanamkan kepedulian lingkungan, sekolah juga menjadikan kegiatan tersebut sebagai bagian dari pembentukan karakter disiplin.
Menurut Isda, karakter yang ingin dibangun tidak hanya mengacu pada nilai Pancawaluya, tetapi juga disiplin waktu, kepatuhan terhadap tata tertib, serta kemandirian dalam menjaga kebersihan lingkungan.
"Yang paling penting adalah siswa memiliki karakter disiplin, baik disiplin waktu, disiplin menaati aturan, maupun mandiri dalam menjaga lingkungan agar tetap bersih, nyaman, dan asri," tuturnya.
Ia menambahkan, selama aksi ekologi para peserta dibagi ke dalam empat kelompok kerja, yaitu membersihkan lingkungan sekolah dan ruang kelas, membersihkan area Jalan Nasional di depan sekolah, membersihkan lingkungan sekitar RW sekolah, serta melakukan penghijauan dan bersih-bersih di kawasan Geyser Cipanas dan Jembatan Garuda.
Isda memastikan program tersebut tidak berhenti pada penutupan MPLS.
Ke depan, SMAN 1 Cibadak bersama Muspika berencana melanjutkan penataan jalur pejalan kaki menuju sekolah agar lebih aman bagi para siswa, sekaligus melakukan perawatan terhadap seluruh pohon yang telah ditanam.
"Insyaallah kegiatan ini akan berkelanjutan. Selain merawat pohon yang telah ditanam, kami juga berencana bersama Muspika mempermudah akses jalan kaki siswa menuju sekolah agar lebih aman dan nyaman," ungkapnya.
Ia berharap seluruh rangkaian MPLS mampu memberikan pengalaman bermakna bagi peserta didik baru.
Meski pembentukan karakter membutuhkan proses panjang, sekolah optimistis kegiatan tersebut menjadi langkah awal agar siswa mengenali potensi dirinya, mencintai lingkungan, dan tumbuh menjadi generasi yang unggul serta berprestasi.
"Penanaman karakter tidak cukup dilakukan secara seremonial. Mudah-mudahan melalui MPLS ini mereka benar-benar mengenali dirinya, mengenali potensinya, dan kelak menjadi murid-murid yang berprestasi serta unggul," pungkasnya. (R.Cking).

