Caption : Secara simbolis penanaman pohon di halaman PT Amerta Indah Otsuka Oleh Kepala Balai TNGHS Didit Sulastiyo, dan Human Capital Director Sudarmadi Widodo, di saksikan Vice President Director Manufacturing PT Amerta Indah Otsuka Miftachul Djauhari. Sabtu (20/6/2026). Foto : R. Cking.
terbit.id, Sukabumi - Otsuka komitmen terhadap pelestarian lingkungan kembali diperkuat melalui kolaborasi antara Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) dan PT Amerta Indah Otsuka. Kedua pihak resmi menandatangani perjanjian kerja sama penguatan fungsi kawasan konservasi, yang ditandai dengan penanaman bibit pohon secara simbolis di area perusahaan , Jalan Raya Siliwangi Km 28, Desa Kutajaya, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, Sabtu (20/6/2026).
Penandatanganan kerja sama ini menjadi langkah strategis dalam mendukung upaya pelestarian kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak yang memiliki peran vital sebagai kawasan konservasi sekaligus daerah tangkapan air bagi wilayah Sukabumi, Bogor, dan Banten.
Usai penandatanganan nota kesepahaman (MoU), kegiatan dilanjutkan dengan penanaman bibit pohon secara simbolis oleh Kepala Balai TNGHS Didit Sulastiyo, dan Human Capital Director Sudarmadi Widodo, di saksikan Vice President Director Manufacturing PT Amerta Indah Otsuka Miftachul Djauhari.
Board of Director PT Amerta Indah Otsuka, Sudarmadi Widodo, mengatakan kerja sama ini merupakan kelanjutan dari berbagai program konservasi yang sebelumnya telah dijalankan perusahaan, termasuk program Kampung Konservasi Otsuka.
“Jadi kami mengucapkan terima kasih kepada TNGHS yang telah berkolaborasi kali ini. Ini merupakan kelanjutan dari program-program sebelumnya, di mana kami sudah menjalankan konsep adopsi pohon sejak 2009 hingga sekarang,” ujar Sudarmadi kepada wartawan.
Ia menjelaskan, kerja sama ini akan berlangsung selama tiga tahun ke depan dengan fokus pada program rehabilitasi melalui penanaman pohon di kawasan TNGHS.
“Program ini bersifat sustainable atau berkelanjutan, karena kami sangat concern terhadap lingkungan di sekitar Gunung Halimun Salak,” katanya.
Dalam tahap awal, sebanyak 3.500 pohon akan ditanam di lahan seluas 4,9 hektare di kawasan Gunung Halimun Salak. Pohon yang akan ditanam terdiri dari jenis-jenis endemik seperti rasamala dan jamuju.
Sudarmadi menyebut pihaknya juga membuka kemungkinan pengembangan tanaman produktif, seperti pohon buah, untuk mendukung aspek ekologis sekaligus manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.
“Pak Kepala Balai juga menyarankan agar dipikirkan tanaman produktif seperti buah-buahan. Nanti akan kami kaji mekanismenya seperti apa,” jelasnya.
Ia menambahkan, program ini melibatkan komunitas lingkungan dan akademisi dalam pelaksanaan hingga pemantauan. Melalui konsep adopsi pohon, setiap tanaman akan terus diawasi agar tingkat keberhasilannya tetap tinggi.
“Keberhasilan program adopsi pohon sebelumnya di atas 95 persen hidup sampai sekarang. Harapannya program kali ini juga bisa lebih dari 95 persen,” ungkapnya.
Sudarmadi juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk ikut ambil bagian dalam menjaga lingkungan.
“Pohon adalah salah satu sumber kehidupan kita karena menghasilkan oksigen. Jadi ini jangan hanya menjadi inisiatif beberapa pihak, tetapi harus menjadi gerakan bersama. Mulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil, tanam satu pohon di rumah, dan mulai dari sekarang,” tegasnya.
Sementara itu dalam sambutannya, Kepala Balai TNGHS, Didid Sulastiyo, menyampaikan apresiasi atas komitmen PT Amerta Indah Otsuka dalam mendukung upaya konservasi sekaligus penguatan ekonomi masyarakat di sekitar kawasan taman nasional.
Menurut Didid, Taman Nasional Gunung Halimun Salak merupakan salah satu kawasan hutan alami terluas di Pulau Jawa yang menjadi habitat beragam flora dan fauna langka.
“Taman Nasional Gunung Halimun Salak merupakan salah satu hutan alami terluas di Jawa dan memiliki fungsi ekologis yang sangat penting sebagai penyedia jasa lingkungan bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan konservasi membutuhkan kolaborasi lintas sektor, tidak hanya mengandalkan pemerintah.
Menurutnya, kerja sama ini diharapkan mampu memperkuat pengelolaan kawasan melalui perlindungan hutan, pengawetan flora dan fauna, pemulihan ekosistem, edukasi konservasi, hingga pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan.
“Kami berharap kolaborasi ini menjadi contoh bahwa konservasi yang berhasil adalah konservasi yang mampu menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekaligus masyarakat sekitar kawasan,” pungkas Didid, (R.Cking).

