terbit.id, Sukabumi - Kesadaran warga Perum Bumi Pakuwon Regency (BPR) RT 59/RW 24, Desa Sundawenang, dalam mengelola sampah mulai menunjukkan hasil nyata. Melalui bazar sampah perdana yang digelar Bank Sampah Wijayakusuma Mandiri (BSWM), warga bisa menukarkan sampah bernilai ekonomi dengan sembako hingga doorprize, Minggu (15/2/2026).
Tak sekadar menukar sampah, kegiatan ini menjadi upaya membangun budaya baru: sampah bukan lagi masalah, tetapi sumber manfaat lingkungan dan ekonomi jika dikelola dengan benar.
Kepala Desa Sundawenang, Wahid, mengatakan bazar sampah tersebut merupakan kegiatan perdana yang diprakarsai pengurus Bank Sampah Wijayakusuma Mandiri dan mendapat dukungan penuh dari berbagai elemen desa.
“Hari ini kami melaksanakan bazar sampah perdana. Kegiatan ini disupport oleh lembaga desa, Kopdes, BUMDes, pemerintah desa, serta Ketua RT dan RW di lingkungan Perum Bumi Pakuwon Regency,” ujar Wahid, kepada terbit.id, Minggu (15/2/2026).
Menurut Wahid, bazar sampah menjadi sarana kampanye lingkungan bersih dan sehat, sekaligus mendorong warga agar menyalurkan sampahnya melalui bank sampah, bukan dibuang sembarangan.
Ia menjelaskan, setiap sampah yang disetorkan warga akan dicatat sebagai saldo tabungan yang nantinya bisa dicairkan dalam bentuk uang.
“Paling tidak ada dua manfaat yang dirasakan. Pertama manfaat lingkungan, karena lingkungan menjadi bersih dan sehat. Kedua manfaat ekonomi, karena sampah yang dikirim warga akan dikonversi menjadi nilai saldo,” jelasnya.
Konsep tersebut, lanjut Wahid, merupakan bentuk nyata pemberdayaan masyarakat yang membutuhkan dukungan semua pihak agar bank sampah bisa menjadi bagian dari ekosistem pelestarian lingkungan.
Saat ini, Bank Sampah Wijayakusuma Mandiri baru melayani pengelolaan sampah non-organik yang memiliki nilai ekonomi. Namun ke depan, pengembangan pengelolaan sampah organik akan dilakukan untuk diolah menjadi kompos sebagai media tanam.
“Nasabah bank sampah saat ini sekitar 60 orang, baru di RT 59 RW 24. Ke depan akan kita perluas ke seluruh RT dan RW di Desa Sundawenang,” ungkapnya.
Wahid menegaskan, keberhasilan pengelolaan sampah sangat bergantung pada partisipasi masyarakat.
“Pengelolaan sampah tidak akan berhasil tanpa dukungan warga. Bentuk dukungannya sederhana, ikut menjadi nasabah bank sampah. Ini bukan kepentingan individu, tapi kepentingan lingkungan dan alam secara keseluruhan,” katanya.
Sementara itu, Ketua Bank Sampah Wijayakusuma Mandiri, Agung Daya Pertiwa, menyebutkan bahwa BSWM telah berjalan sekitar sembilan bulan hingga satu tahun dengan jumlah nasabah aktif sekitar 46 orang, belum termasuk pendaftar baru.
“Tujuan utama kami ada dua, menjaga lingkungan dan meningkatkan sumber ekonomi masyarakat,” kata Agung.
Dalam bazar sampah tersebut, panitia menyediakan berbagai kebutuhan pokok yang bisa ditukar dengan sampah, seperti minyak goreng, telur, mi instan, terigu, dan gula pasir. Selain itu, warga juga berkesempatan mendapatkan doorprize.
“Alhamdulillah antusias warga sangat tinggi. Total peserta hari ini sekitar 70 orang dengan timbangan sampah mencapai kurang lebih 1 ton 300 kilogram,” jelasnya.
Meski diwarnai berbagai tantangan dalam perintisan, seperti keterbatasan waktu dan kesibukan masing-masing pengurus, Agung mengaku bersyukur atas respons positif masyarakat.
“Perjuangannya memang cukup menantang, tapi antusias warga menjadi penyemangat kami. Bazar ini hanya satu hari, tapi dampaknya luar biasa,” ujarnya.
Ke depan, BSWM menargetkan dukungan lebih luas dari pemerintah desa dan instansi terkait agar bank sampah dapat berkembang dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat. (R.Cking).

