terbit.id, Sukabumi - Tanaman hanjeli yang selama ini dikenal sebagai salah satu kekayaan hayati lokal Kabupaten Sukabumi berhasil mencuri perhatian dunia. Melalui inovasi teknologi pertanian bernama Smart Hanjeli, dua guru SMPN 1 Sukaraja sukses meraih medali emas atau Gold Medal (Grand Prize) dalam ajang International Mathematical Science Creative Competition (IMSCC) 2026 di Korea Selatan.
Prestasi internasional tersebut diraih Adila Irawan, M.Pd. dan Rahayu Utami, S.Pd. yang tergabung dalam Tim Coix Squad. Keduanya membuktikan bahwa potensi tanaman lokal tidak hanya bernilai dari sisi pangan dan budaya, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi inovasi berbasis teknologi dan ilmu pengetahuan.
Keberhasilan ini sekaligus membawa nama Kabupaten Sukabumi ke panggung internasional melalui karya yang menggabungkan teknologi kecerdasan buatan, rekayasa konstruksi, dan pemanfaatan sumber daya hayati daerah.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi, Deden Sumpena, mengapresiasi capaian kedua guru tersebut. Menurutnya, prestasi ini menjadi bukti bahwa tenaga pendidik memiliki ruang kontribusi yang lebih luas, tidak sebatas menjalankan kegiatan belajar mengajar di sekolah.
"Tentunya kita merasa bangga ya, ada perwakilan guru kita dari SMP Sukaraja yang diundang ke Korea untuk mendapatkan penghargaan yang berkaitan dengan ilmu matematika, kalau tidak salah," kata Deden saat diwawancarai, Selasa (3/11/2026).
Ia menilai keberhasilan Adila dan Rahayu patut menjadi inspirasi bagi guru-guru lainnya agar terus mengembangkan kompetensi, kreativitas, serta menghasilkan karya yang memiliki manfaat lebih luas.
Deden berharap para pendidik di Kabupaten Sukabumi tidak hanya berorientasi pada peningkatan kualitas pembelajaran, tetapi juga mampu melahirkan inovasi yang mendapat pengakuan hingga tingkat internasional.
"Mudah-mudahan ini juga jadi motivasi bagi guru-guru yang lainnya. Bukan hanya mengajar, tentunya, tapi memberikan kontribusi hal-hal yang lain sehingga kita diapresiasi bukan hanya di tingkat kabupaten, bahkan di Korea diberi kesempatan," ujarnya.
Smart Hanjeli, Perpaduan AI dan Potensi Geopark Ciletuh
Smart Hanjeli bukan sekadar proyek pengembangan tanaman. Inovasi ini dirancang dalam bentuk greenhouse adaptif yang memadukan konstruksi 4DFrame dengan teknologi Embodied Artificial Intelligence (AI), yakni kecerdasan buatan yang terintegrasi dengan perangkat fisik.
Teknologi tersebut dikembangkan untuk mengoptimalkan kondisi mikroklimat di dalam greenhouse sekaligus meningkatkan efisiensi penggunaan air bagi tanaman hanjeli.
Menariknya, fasilitas ini juga memiliki fungsi edukatif. Greenhouse dirancang sebagai media pembelajaran interaktif agar siswa dapat mengenal teknologi, matematika, sains, dan pertanian melalui praktik secara langsung.
Pemilihan hanjeli sebagai objek inovasi juga memiliki alasan tersendiri. Tanaman bernama ilmiah *Coix lacryma-jobi* tersebut merupakan salah satu potensi hayati Kabupaten Sukabumi, khususnya yang berkaitan dengan kawasan Waluran dan khazanah Geopark Ciletuh.
Deden menyebut, pengangkatan hanjeli dalam inovasi tersebut menjadi langkah positif untuk memperkenalkan kekayaan daerah melalui dunia pendidikan.
"Yang hanjeli itu kan Waluran terutama ya. Hanjeli juga itu bagian dari khazanah geopark, ketahanan pangan juga, sehingga itu yang diangkat," jelasnya.
Menurut Deden, inovasi seperti Smart Hanjeli memiliki nilai lebih karena tidak hanya menghasilkan prestasi akademik, tetapi juga memperkenalkan potensi lokal yang berkaitan dengan ketahanan pangan, budaya, dan pariwisata Kabupaten Sukabumi.
Ia berharap karya-karya pendidikan ke depan dapat semakin banyak mengangkat kekhasan daerah sehingga potensi Sukabumi dikenal melalui kreativitas guru maupun peserta didik.
Berawal dari Kompetisi di Bandung
Sebelum menembus kompetisi internasional di Korea Selatan, perjalanan Tim Coix Squad telah melalui tahapan pengembangan dan kompetisi di tingkat nasional.
Pada Agustus 2026, tim tersebut mengikuti Indonesian Science Technology Engineering and Mathematics Creativity Competition (ISTEMCC) 2026 yang diselenggarakan di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.
Dalam kompetisi tersebut, mereka memperkenalkan inovasi Smart Chloroplast dan berhasil membawa pulang Special Award kategori Capture Design Project pada babak final, 16 Agustus 2026.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan pengembangan inovasi hingga akhirnya mereka menghadirkan Smart Hanjeli untuk berkompetisi di IMSCC 2026 Korea Selatan.
Di sisi lain, keberhasilan kedua guru tersebut juga ditopang oleh komitmen dalam meningkatkan kapasitas akademik. Adila diketahui tengah menyelesaikan pendidikan doktoral (S3), sementara Rahayu sedang menempuh pendidikan magister (S2).
Deden mengatakan, Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi turut memberikan dukungan terhadap keberangkatan keduanya ke Korea Selatan, termasuk bantuan untuk menunjang kebutuhan perjalanan mengikuti kompetisi internasional tersebut.
"Kemarin kita lepas juga, ada beberapa bantuan yang memang untuk membantu proses keberangkatan dua orang guru itu," ungkapnya.
Disiapkan Penghargaan pada Hari Guru Nasional
Sebagai bentuk apresiasi atas prestasi yang mengharumkan nama daerah, Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi berencana memberikan penghargaan khusus kepada Adila dan Rahayu setelah keduanya kembali dari Korea Selatan.
Pemberian penghargaan tersebut direncanakan bertepatan dengan peringatan Hari Guru Nasional pada November 2026.
"Sepulangnya dari Korea, di Hari Guru kita juga akan memberikan reward. Kebetulan bertepatan dengan Hari Guru, nanti kita akan memberikan penghargaan kepada kedua orang yang hari ini berangkat ke sana," kata Deden. (R.Cking).

