Berkat Dorongan Teddy Setiadi, Irigasi Pamatutan Dibangun untuk Perkuat Ketahanan Pangan Sukabumi

Redaksi
Sabtu, 08 Agustus 2026 | 16:32 WIB Last Updated 2026-08-08T09:33:49Z
terbit.id, Sukabumi - Setelah hampir setahun kehilangan aliran air, harapan petani di Desa Sundawenang, Kecamatan Parungkuda, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, untuk kembali menggarap lahan pertanian mulai menemukan titik terang.

Pembangunan saluran irigasi Pamatutan-Sundawenang yang menjadi akses penting bagi lahan pertanian Kelompok Tani/P3A Mitra Cai Sunda Mekar kini terus dikerjakan. Pembangunan tersebut didorong melalui aspirasi dan Pokok Pikiran (Pokir) anggota DPRD Kabupaten Sukabumi dari Partai Gerindra, Teddy Setiadi.

Ketua P3A Mitra Cai Sunda Mekar, mengatakan pembangunan irigasi tersebut menjadi angin segar bagi masyarakat. Pasalnya, saluran irigasi sebelumnya mengalami kerusakan akibat tergerus aliran sungai sehingga air tidak lagi dapat masuk ke lahan pertanian.

“Kejadiannya itu tanggal 3 Agustus 2025. Total air tidak bisa masuk sampai hari ini, mungkin sudah setahun air tidak masuk. Kurang lebih tiga musim panen kita tidak ada air,” ujar Dadan ditemui di terbit.id, Sabtu (8/8/2026).

Ia menjelaskan, pembangunan dilakukan di jaringan irigasi HM 03 yang berada di Kampung Pamatutan RT 55/23, Desa Sundawenang.

Meski secara keseluruhan jaringan irigasi memiliki panjang sekitar 3.500 meter, bagian yang saat ini dibangun hanya kurang dari 100 meter. Namun, pembangunan tersebut mencakup sejumlah bangunan penting untuk memastikan distribusi air dapat berjalan lebih optimal.

“Yang dibangun itu ada beberapa bagian, mulai dari talang air, bak penguras, bangunan ukur, saluran tertutup atau saltup, dan sadap,” jelasnya.

Talang air dibangun pada bagian saluran yang sebelumnya rusak dan tergerus. Panjangnya diperkirakan mencapai 60 hingga 70 meter. Sementara bak penguras dibangun sekitar 200 hingga 300 meter dari lokasi talang untuk mengantisipasi endapan lumpur yang terbawa aliran air.

Selain itu, terdapat bangunan ukur yang berfungsi mengukur debit air yang masuk ke jaringan irigasi. Pada bagian yang rawan longsor juga dibangun saluran tertutup sepanjang kurang lebih 25 meter dengan konstruksi beton dan besi.

“Setelah bangunan ukur, dibuat saluran tertutup karena lokasinya rawan longsor. Kemudian ada sadap, yaitu pintu air pertama yang mengatur aliran air menuju sawah,” katanya.

Menurutnya, progres pembangunan saat ini telah mencapai lebih dari 80 persen. Pekerjaan masih berlangsung, terutama pada bagian pemasangan talang air.

Dalam kontrak, pembangunan tersebut memiliki target pengerjaan selama 150 hari kerja. Sementara hingga Sabtu (8/8/2026), pekerjaan telah berjalan hampir tiga bulan.

“Kami berharap segera tuntas karena kondisi cuaca mendukung dan petani sangat membutuhkan air. Hari ini petani sudah sangat membutuhkan, karena sudah tiga musim panen tidak ada air,” ungkapnya.

54 Hektare Lahan Pertanian Terdampak

Tidak berfungsinya saluran irigasi selama hampir satu tahun memberikan dampak cukup besar terhadap sektor pertanian di wilayah tersebut.

Sedikitnya 54 hektare lahan pertanian yang selama ini mendapatkan pasokan dari jaringan irigasi tersebut ikut terdampak. Saat musim kemarau seperti sekarang, hanya sebagian kecil lahan yang masih dapat ditanami dengan mengandalkan sumber mata air.

“Dari 54 hektare itu mungkin hanya sekitar 10 persen yang bisa ditanam. Itu pun memanfaatkan aliran mata air. Kalau maksimal paling sekitar satu hektare yang masih bisa teraliri,” tuturnya.

Kondisi tersebut membuat sebagian besar lahan pertanian berpotensi mengalami gagal panen atau puso.

Dampak kekeringan juga tidak hanya dirasakan petani sawah. Kolam ikan milik warga ikut terbengkalai karena keterbatasan air. Sektor palawija juga terdampak karena tanaman tidak memperoleh pasokan air yang cukup.

Bahkan, keberadaan jaringan irigasi tersebut berkaitan dengan ketersediaan air pada sumur-sumur warga. Menurutnya, saluran irigasi selama ini turut membantu proses resapan air ke lingkungan sekitar.

“Kolam ikan, perikanan, palawija juga terdampak. Termasuk resapan air yang masuk ke sumur-sumur warga, itu sangat berpengaruh,” katanya.

Apresiasi untuk Dewan Teddy Setiadi

Ketua P3A Mitra Cai Sunda Mekar tersebut menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terealisasinya pembangunan saluran irigasi tersebut.

Ia secara khusus mengapresiasi anggota DPRD Kabupaten Sukabumi Teddy Setiadi yang menurutnya merespons persoalan tersebut setelah disampaikan dalam kegiatan reses.

“Saya terbantu oleh Pokir Dewan, Dewan Teddy yang paling utama menjadi perhatian khusus. Ketika reses, saya pernah berbicara bahwa kami punya kendala seperti ini, dan beliau merespons dengan baik,” ungkapnya.

Menurutnya, pembangunan tersebut tidak muncul secara tiba-tiba. Sebelum direalisasikan, terdapat sejumlah upaya dan komunikasi dengan berbagai pihak, mulai dari masyarakat, RT/RW, pemerintah desa, kecamatan, hingga Dinas Pekerjaan Umum melalui bidang Sumber Daya Air.

Ia juga mengaku pernah menyampaikan persoalan tersebut secara langsung kepada Bupati Sukabumi dalam sebuah pertemuan P3A Mitra Cai di Kadudampit.

“Jadi tidak serta-merta datang begitu saja. Ada upaya, ada usaha, ada bukti, dan sekarang ada realisasi,” tegasnya.

Ia menilai pembangunan irigasi tersebut sejalan dengan upaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan. Sebab, lahan pertanian di kawasan Pamatutan merupakan salah satu kawasan penting bagi produksi pangan Desa Sundawenang.

“Kalau Sundawenang ini hanya punya satu lahan pertanian untuk padi khususnya, ya inilah lumbung padinya. Berada di Kelompok Tani Sunda Mekar,” katanya.

Karena itu, ia membantah anggapan bahwa pembangunan tersebut merugikan petani. Sebaliknya, sebagai penerima manfaat, pihaknya menilai keberadaan infrastruktur tersebut sangat dibutuhkan masyarakat.

“Saya justru dengan hadirnya ini berterima kasih kepada semua pihak. Sebagai penerima manfaat yang paling besar, saya berterima kasih luar biasa. Ini perjuangan yang perlu mendapat perhatian semua pihak,” ujarnya.

Irigasi Harus Dijaga Bersama

Setelah pembangunan selesai, ia berharap masyarakat tidak hanya memanfaatkan saluran tersebut, tetapi juga ikut menjaga dan merawatnya agar dapat digunakan dalam jangka panjang.

Menurutnya, anggaran pemerintah yang digunakan untuk pembangunan infrastruktur tersebut harus memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat.

“Kami berharap para anggota P3A Mitra Cai dan masyarakat pada umumnya memahami bahwa anggaran ini tidak sia-sia. Setelah jadi, harus benar-benar dijaga,” katanya.

Bahkan, sebelum pembangunan sepenuhnya rampung, masyarakat bersama P3A Mitra Cai mulai melakukan normalisasi saluran yang selama hampir setahun tidak digunakan.

“Hari ini kami sebagai penerima manfaat karena saluran sudah setahun tidak masuk air, sudah bergerak untuk menormalisasi. Sekitar 70 sampai 80 persen sudah kami bersihkan. Aliran yang tadinya tidak terpakai selama setahun sekarang kami gali kembali,” pungkasnya.

Ia berharap pembangunan tersebut dapat segera rampung sehingga pasokan air kembali mengalir ke lahan pertanian dan mampu menghidupkan kembali aktivitas pertanian, perikanan, serta meningkatkan ketahanan pangan masyarakat Desa Sundawenang.(R.Cking). 
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Berkat Dorongan Teddy Setiadi, Irigasi Pamatutan Dibangun untuk Perkuat Ketahanan Pangan Sukabumi

Trending Now

Iklan