terbit.id, Sukabumi - Tangis pilu menyelimuti keluarga kecil di Kampung Babakan Gobang, Desa Cibunarjaya, Kecamatan Ciambar, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Seorang bocah laki-laki bernama Fadlan Alfarizi (5) dilaporkan hilang dan diduga hanyut di Sungai Cicatih pada Jumat (3/7/2026).
Di tengah pencarian yang masih berlangsung, sang ibu, Irma wati, tak kuasa menahan kesedihan saat menceritakan detik-detik terakhir sebelum anak keduanya itu menghilang.
Dengan mata sembab dan suara bergetar, Irma wati mengaku masih teringat jelas percakapan terakhir dengan putranya. Pagi itu, Fadlan sempat bermain seperti biasa sebelum akhirnya meminta izin keluar rumah.
Menurut Irma wati, tidak ada firasat buruk sedikit pun saat anaknya berpamitan untuk bermain bersama teman-temannya di sekitar masjid dekat rumah.
“Tadi pagi dia main drumben. Pas pulang saya tanya, ‘Dede dari mana, belum mandi?’ Setelah itu saya mandiin,” ujar Irma wati sambil menahan tangis.
Usai mandi, Fadlan sempat bertengkar kecil dengan kakaknya karena berebut telepon genggam. Setelah itu, bocah berusia 5 tahun 1 bulan tersebut kembali meminta izin untuk bermain.
“Dia sempat berantem sama Aa-nya rebutan HP. Saya bilang, ‘Dede jangan galak.’ Setelah itu dia bilang mau main. Saya cuma pesan, ‘Dede jangan jauh-jauh ya.’ Dia jawab, ‘Iya,’ lalu lari sama teman-temannya,” tutur Irmawati, kepada terbit.id, Jumat(3/7/2026).
Sejak saat itu, Irma wati mengaku masih sempat mendengar suara anaknya bermain di sekitar masjid. Namun tak lama kemudian, suasana berubah mencekam.
Ia mendengar suara tangisan anak kecil dari arah luar rumah. Awalnya Irmawati mengira itu suara anak lain. Namun insting seorang ibu membuatnya sadar bahwa suara tersebut adalah suara putranya.
“Saya dengar ada yang nangis. Awalnya saya kira anak lain. Tapi saya tahu itu suara anak saya,” katanya.
Kekhawatiran Irma wati semakin besar ketika teman-teman Fadlan pulang tanpa kehadiran bocah tersebut. Ia langsung bertanya kepada anak-anak yang bersama Fadlan.
“Saya tanya, ‘Neng, si Dede mana?’ Mereka bilang enggak tahu,” ujarnya.
Tak lama berselang, seorang anak kembali datang sambil membawa sandal milik Fadlan. Sandal itu ditemukan di sekitar area masjid.
Mendengar hal tersebut, jantung Irmawati seolah runtuh. Ia langsung dihantui ketakutan terburuk.
“Anak itu bilang, ‘Bu, ini sandal si Dede. Si Dede enggak ada, tapi sendalnya masih ada di masjid.’ Pas dengar itu saya langsung bilang ke suami, ‘Ayah, si Dede enggak ada, takut ke air,’” ucapnya.
Tanpa pikir panjang, Irma wati dan suaminya berlari menuju lokasi sambil memanggil nama Fadlan berulang kali. Namun tak ada jawaban.
“Saya langsung lari ke bawah, dipanggil-panggil enggak ada,” katanya lirih.
Meski dugaan sementara mengarah pada kemungkinan Fadlan hanyut di Sungai Cicatih, Irma wati masih sulit mempercayainya. Ia menilai lokasi di sekitar sungai cukup sulit dijangkau anak seusia Fadlan.
Menurutnya, jika pun sang anak jatuh ke aliran sungai, seharusnya ada jejak atau tubuhnya tersangkut di sekitar lokasi.
“Kalau ke air, enggak mungkin loncat karena tinggi. Di bawahnya juga ada semak-semak. Kalau pun jatuh, harusnya ada nyangkut di situ,” tutur Irma wati.
Irmawati juga mengungkapkan bahwa Fadlan baru saja menjalani khitan beberapa minggu lalu. Hal itu membuat kesedihan keluarga semakin mendalam.
“Iya, baru disunat. Besok tiga minggu,” katanya.
Fadlan merupakan anak kedua dari keluarga tersebut. Di mata orang tuanya, ia dikenal aktif dan sering bermain di sekitar lingkungan rumah bersama teman-temannya.
Kini, keluarga hanya bisa berharap keajaiban datang dan Fadlan segera ditemukan.
Pencarian terhadap bocah malang itu masih terus dilakukan oleh warga bersama tim gabungan di sekitar aliran Sungai Cicatih.
Kesedihan setiap kali nama Fadlan disebut. Di tengah kecemasan dan harapan yang tersisa, Irma wati hanya ingin putranya segera ditemukan.
“Saya masih dengar suara anak saya tadi…,” ucapnya pelan, sebelum air mata kembali jatuh.(R.Cking).

