Bukan Sekadar Sinyal: Cerita Relawan SIBAT Citamiang Manfaatkan Internet Satelit Saat Darurat

Redaksi
Rabu, 29 Juli 2026 | 15:53 WIB Last Updated 2026-07-29T08:54:42Z
Foto: Istimewa | Antena Satelit Internet saat dipasangkan anggota PMI di Atap Kantor Desa Citamiang yang membantu jaringan internet setempat.

Terbit.id, Sukabumi - Di tengah perbukitan Desa Citamiang, Kecamatan Purabaya, Kabupaten Sukabumi, sebuah antena satelit berdiri sederhana di atap kantor desa. Bagi sebagian orang, perangkat itu mungkin hanya penangkap sinyal internet. 

Namun bagi relawan, aparat desa, dan masyarakat, koneksi tersebut kini menjadi penghubung harapan ketika bencana datang.

Di wilayah yang kerap dihadapkan pada ancaman pergerakan tanah longsor, hingga cuaca ekstrem, komunikasi sering kali menjadi kebutuhan paling mendesak. 

Informasi harus bergerak cepat, laporan kondisi lapangan harus segera diterima, dan koordinasi antarpihak tidak boleh terputus. Kini, semua itu dapat dilakukan lebih mudah berkat konektivitas internet berbasis komunitas.

Melalui kolaborasi Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Sukabumi bersama Atma Connect yang didukung oleh Internet Society Foundation, konektivitas internet berbasis satelit terus diperkuat di desa-desa rawan bencana. 

Program ini bukan sekadar menghadirkan akses internet, tetapi juga membangun kemampuan masyarakat agar mampu memanfaatkan teknologi sebagai bagian dari kesiapsiagaan menghadapi bencana.

Program bertajuk Mengembangkan Model Ketahanan Internet Berbasis Komunitas yang Berkelanjutan untuk Penanggulangan Bencana merupakan kelanjutan dari fase pertama yang telah berhasil diterapkan di Desa Sukamaju, Kecamatan Nyalindung, dan Desa Ciengang, Kecamatan Gegerbitung. 

Memasuki fase kedua, program diperluas ke lima desa di Kecamatan Purabaya, Cidolog, dan Curugkembar.

Selain menghadirkan internet berbasis satelit, program ini juga membekali Relawan Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (SIBAT) dengan pelatihan pemanfaatan teknologi digital untuk mempercepat pelaporan kejadian, koordinasi lintas pihak, serta penyebaran informasi kepada masyarakat saat terjadi bencana.

Manfaat program tersebut kini mulai dirasakan di Desa Citamiang. Relawan SIBAT tidak lagi harus menunggu lama untuk menyampaikan laporan kondisi lapangan. Informasi dapat diterima secara real time, koordinasi dengan PMI dan pemerintah desa menjadi lebih cepat, sementara edukasi kebencanaan kepada masyarakat semakin mudah dilakukan melalui platform digital yang saat ini sudah dikembangkan oleh Atma Connect.

Salah satu relawan SIBAT Desa Citamiang, Lukman Hakim, mengatakan kehadiran internet telah mengubah cara relawan bekerja dalam menyampaikan informasi dan berkoordinasi saat terjadi bencana.

“Sebelum ada dukungan program internet ini, kami sering mengalami kesulitan menyampaikan informasi kepada sesama anggota SIBAT maupun kepada masyarakat. Keterbatasan jaringan membuat komunikasi tidak selalu berjalan lancar, sehingga penyampaian informasi kebencanaan terkadang terlambat diterima,” ujarnya.

Menurut Lukman, kondisi tersebut kini telah berubah. Kehadiran internet berbasis satelit membuat relawan dapat menerima informasi lebih cepat, mengirim laporan kondisi lapangan secara langsung, berkoordinasi dengan PMI dan pemerintah desa, serta memberikan edukasi informasi kebencanaan kepada masyarakat.

“Sekarang proses komunikasi jauh lebih cepat dan efektif. Kami bisa segera menerima informasi, melaporkan kondisi di lapangan, berkoordinasi dengan PMI dan pemerintah desa, sekaligus memberikan edukasi kebencanaan kepada masyarakat. Saat situasi darurat, kecepatan informasi sangat menentukan proses penanganan,” katanya

Manfaat konektivitas internet ternyata tidak berhenti pada urusan kebencanaan. Pemerintah Desa Citamiang kini juga mengandalkan jaringan tersebut untuk menunjang berbagai pelayanan kepada masyarakat.

Sekretaris Desa Citamiang, Nenda Shopiya Aspari, mengatakan hampir seluruh aktivitas pemerintahan desa saat ini telah berbasis aplikasi sehingga membutuhkan koneksi internet yang stabil.

“Program ini sangat bermanfaat untuk mendukung berbagai program desa. Selain untuk penyebaran informasi kebencanaan dan memperkuat koordinasi saat terjadi bencana, internet juga menjadi kebutuhan utama dalam penyelenggaraan pemerintahan desa. 

Saat ini hampir seluruh penunjang kerja pemerintahan desa berbasis aplikasi yang sangat membutuhkan koneksi internet,” katanya.

Menurut Nenda, jaringan internet dimanfaatkan untuk penginputan data Profil Desa dan Kelurahan (Prodeskel), administrasi keuangan desa, pengelolaan data aset desa, hingga pengajuan bantuan sosial bagi masyarakat kurang mampu melalui aplikasi SIKS-NG Kementerian Sosial yang dioperasikan oleh petugas desa.

“Selain itu, koneksi internet juga sangat membantu pelaksanaan rapat secara zoom, pelatihan, dan berbagai kegiatan di aula desa yang membutuhkan akses internet,” ujarnya.

Nenda menambahkan, sebagai bentuk komitmen terhadap keberlanjutan program, Pemerintah Desa Citamiang turut mengalokasikan anggaran desa untuk penyediaan panel surya sebagai sumber listrik perangkat internet. Langkah ini dilakukan agar layanan komunikasi tetap berfungsi meski terjadi pemadaman listrik saat keadaan darurat.

Sementara itu, Direktur Program Atma Connect, Alpan R. Kasdar, menjelaskan bahwa internet berbasis satelit dipilih karena mampu tetap beroperasi ketika jaringan komunikasi konvensional terganggu akibat bencana.

“Kami hadir dengan menyediakan internet berbasis satelit. Sehingga, ketika terjadi bencana, akses internet bisa tetap jalan dan proses penanganan pasca bencana pun bisa lebih cepat. Akhirnya warga bisa mandiri menggunakan internet,” ujarnya.

Ia menambahkan, fase kedua program tidak hanya berfokus pada pemasangan infrastruktur, tetapi juga memperkuat kapasitas masyarakat sebagai garda terdepan dalam menghadapi bencana.

“Fase pertama sukses di dua desa, sekarang kita kembangkan ke lima desa di tiga kecamatan. Tidak hanya sekadar memasang internet di desa rawan bencana, namun ada pelatihan relawan dan pengetahuan terkait penggunaannya untuk mempercepat proses penanggulangan pasca bencana,” katanya.

Kolaborasi antara PMI Kabupaten Sukabumi, Atma Connect, Internet Society Foundation, pemerintah desa, relawan, dan masyarakat menunjukkan bahwa membangun ketangguhan tidak selalu dimulai dari infrastruktur berskala besar. 

Di sebuah desa yang berada di kaki perbukitan, sebuah koneksi internet mampu menjadi penghubung informasi, mempercepat pelayanan publik, menguatkan koordinasi saat bencana, sekaligus menumbuhkan rasa percaya diri masyarakat untuk lebih siap menghadapi berbagai ancaman.

Di Desa Citamiang, internet bukan lagi sekadar teknologi. Ia telah menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk menjaga harapan, memperkuat kesiapsiagaan, dan membangun ketangguhan masyarakat dari desa.*

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Bukan Sekadar Sinyal: Cerita Relawan SIBAT Citamiang Manfaatkan Internet Satelit Saat Darurat

Trending Now

Iklan