HUT TNI ke 78 Kodim 0725/Sragen Persembahkan Wayang Kulit Lakon Bimo Krido

Redaksi
Sabtu, 07 Oktober 2023 | 10:22 WIB Last Updated 2023-10-07T03:23:57Z

TERBIT.ID I Sragen - Rangkaian HUT TNI ke-78, Kodim 0725/Sragen persembahkan wayang kulit semalam suntuk oleh Ki Dalang Medot Sudarsono membawakan lakon Bimo Krido di halaman Makodim Sragen Jalan Sukowati No.13, Karang Duwo, Sragen Tengah, Kecamatan Sragen, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, Jumat,(06/09/2023)malam.

Informasi dihimpun terbit.id, Pagelaran wayang kulit dihadiri oleh Wakil Bupati, Ketua DPRD, Kapolres, Danyon 408, Kajari, Kepala Pengadilan Negeri, Kalapas, Kaminvet, Dansubdenpom, Veteran, anggota TNI, PNS, Persit Kodim dan ratusan masyarakat Sragen. Disela sela pagelaran wayang kulit juga diselingi undian berhadiah bagi peserta yang hadir.

Dandim 0725/Sragen Letkol Inf Yoga Yastinanda, mengatakan bahwa pagelaran wayang kulit semalam suntuk ini merupakan persembahan Kodim Sragen untuk warga masyarakat Sragen dalam memeriahkan HUT TNI ke-78.

"Pesan moral dalam lakon Bimo Krido tersebut adalah keberanian Pandawa dalam memperjuangkan hak dan kedaulatan negara, kemerdekaan dan kedaulatan merupakan hasil perjuangan, bukan hasil perdamaian yang membuat kemerdekaan menjadi tidak utuh" Jelas Yoga. 

Lebih lanjut Yoga, Pagelaran wayang kulit HUT TNI ke-78 tahun 2023 dengan lakon Bimo Krido di lakukan di 78 titik secara serentak dan disaksikan oleh Panglima TNI Laksamana TNI Yudo Margono, melalui Video conference. 

Orang nomor satu di Jajaran Kodim0725/Sragen berharap, masyarakat bisa terhibur dan bisa mengambil hikmah dan pesan moral dalam pertunjukan wayang tersebut untuk di aplikasikan pada kehidupan nyata. 


Lakon Bimo Krido yang disuguhkan oleh dalang wayang kulit ternama ki dalang Medot Sudarsono, dalam lakon Bimo Krido, dikisahkan bahwa kata Krido, artinya perbuatan atau tindakan yang mengandung makna berbuat atau bertindak kebaikan yang bermanfaat untuk nusa dan bangsa.

Kisah ini berawal dari lahirnya Bima yang masih berwujud bungkus (ari-ari) bahkan bungkus tersebut bisa mengalahkan gajah Seno yang akhirnya bungkus tersebut diberi nama Brotoseno. Di usia anak-anak Bima mampu mengalahkan dan membunuh raja Eka Cakra yaitu Prabu Boko, rakyat eka cakra pun gembira karena raja pemakan daging manusia telah sirna.

Di usia remaja, Bima sebagai pengayom saudara-saudaranya, Bima memimpin dalam babat alas mertani, sehingga bisa membuat negara baru yaitu Ngendra Prastha. Dalam membangun tidak hanya fisik, raga atau jasmani, tetapi juga rohani yang dibutuhkan, Bima menjelma menjadi brahmana di pertapaan Arga kelasa dengan nama begawan Bima suci, Bima menyebarkan ilmu Sangkan paraning dumadi atau ilmu kesempurnaan untuk kebutuhan rohani dan batiniah. di akhir cerita dalam kisah perang baratayuda Bima berhasil mengalahkan Duryudana, di sinilah titik puncak Bimo Krido dalam memberantas kebatilan dan keangkaramurkaan. 

Setelah berhasil sebagai Senopati, Bima bersama Pandawa pindah ke Astinapura dan sekaligus kelak Bima akan menjadi penasehat bagi cucunya yaitu prabu Parikesit.


Reporter.   : Agus Kemplu. 
Redaktur.   : Us. 
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • HUT TNI ke 78 Kodim 0725/Sragen Persembahkan Wayang Kulit Lakon Bimo Krido

Trending Now

Iklan