terbit.id, Sukabumi - Persatuan lintas desa menjadi modal utama Ikatan Putra Daerah Sukabumi (IPRADA) dalam memperkuat gerakan sosial dan kemanusiaan di Kecamatan Parungkuda, Kabupaten Sukabumi. Organisasi ini mulai menyatukan perwakilan dari delapan desa melalui pembentukan kepengurusan baru periode 2026, Sabtu (7/11/2026).
Bukan sekadar membentuk struktur organisasi, IPRADA ingin membangun wadah kebersamaan yang mampu menjembatani berbagai elemen masyarakat sekaligus menghadirkan aksi nyata di tengah persoalan sosial. Komitmen tersebut menjadi arah gerak organisasi yang mengusung semangat persaudaraan dan gotong royong.
Pembentukan kepengurusan yang berlangsung di Museum Monumen Bojongkokosan, Kecamatan Parungkuda, itu mengangkat tema “Menyatukan Semua Elemen Keorganisasian yang Ada di Wilayah Kecamatan Parungkuda.”
Iman Sudirman dipercaya menakhodai IPRADA sebagai ketua. Ia menegaskan, keterlibatan perwakilan dari delapan desa merupakan upaya memperluas jangkauan organisasi sekaligus memperkuat komunikasi dengan masyarakat di setiap wilayah.
Menurut Iman, organisasi tidak boleh hanya menjadi wadah berkumpul atau sekadar memiliki struktur kepengurusan. Lebih dari itu, keberadaannya harus mampu memberikan kontribusi dan manfaat yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
"Kami ingin menyatukan semua elemen yang ada di Kecamatan Parungkuda. Dengan kebersamaan dan persaudaraan, kita bisa membangun komunikasi, memperkuat solidaritas, serta melakukan kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat," ujar Iman.
Ia menjelaskan, IPRADA akan lebih memprioritaskan kegiatan sosial dan kemanusiaan sebagai salah satu fokus utama program organisasi. Langkah tersebut diharapkan dapat menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar, khususnya masyarakat yang membutuhkan perhatian dan bantuan.
Untuk mewujudkan tujuan tersebut, IPRADA juga membuka ruang keterlibatan berbagai unsur, mulai dari tokoh agama, tokoh masyarakat hingga kalangan pemuda. Keberagaman latar belakang tersebut dinilai menjadi kekuatan untuk membangun organisasi yang inklusif, mengedepankan musyawarah, dan tidak membeda-bedakan golongan.
Dari sisi kepengurusan, sejumlah figur dipercaya mengisi posisi strategis untuk menjalankan roda organisasi. Indra Sukmawijaya ditetapkan sebagai sekretaris dan Muhamad Rahmat Afiat sebagai bendahara.
Sementara itu, bidang keorganisasian dipercayakan kepada Ato Nurwanto, bidang pendidikan Abdul Rosyad, bidang pemberdayaan perempuan Neng Sukma, serta bidang sosial dan kemanusiaan Gandi Supriatna.
Adapun bidang hubungan masyarakat (humas) dijabat Surya Wijaya, bidang keagamaan Epi, dan bidang usaha dipercayakan kepada Ipan.
Dengan keterwakilan delapan desa dan dukungan berbagai unsur masyarakat, IPRADA diharapkan tidak hanya menjadi organisasi yang kuat secara internal, tetapi juga mampu membangun gerakan sosial yang berkelanjutan.
Tantangan berikutnya adalah menerjemahkan semangat persatuan tersebut ke dalam program kerja yang konkret. Sebab, ukuran keberhasilan organisasi bukan terletak pada banyaknya jabatan yang terbentuk, melainkan seberapa besar kontribusi dan kepedulian yang diberikan kepada masyarakat.
Semangat “Kebersamaan dalam Persaudaraan” pun menjadi landasan IPRADA dalam menjalankan organisasi ke depan, sekaligus membawa harapan agar solidaritas dan budaya gotong royong semakin kuat di Kecamatan Parungkuda.(Uya).

