terbit.id, Sukabumi - Suasana di Pondok Pesantren Alam Baiti Jannati, Cikundul, Kecamatan Lembursitu, Kota Sukabumi, berubah setelah puluhan hingga ratusan santri mengalami gangguan kesehatan secara bersamaan. Hingga Sabtu (15/8/2026), penyebab pasti kondisi tersebut masih menunggu hasil pemeriksaan medis dan laboratorium.
Sebanyak 134 orang, terdiri atas 133 santri tingkat SMP dan SMA serta seorang dewan asatiz, mengalami keluhan mulai dari pusing, mulas hingga muntah-muntah. Sejumlah santri harus mendapatkan penanganan di fasilitas kesehatan, sementara sebagian lainnya telah diperbolehkan kembali ke pondok.
Pimpinan Pondok Pesantren Alam Baiti Jannati, Faid Fauzan, mengatakan keluhan pertama kali mulai terlihat pada Jumat siang. Sekitar pukul 14.30 WIB, sejumlah santri mengeluhkan pusing setelah sebelumnya menyantap makanan sekitar pukul 12.30 WIB.
Kondisi kemudian berkembang pada malam hari. Beberapa santri mulai mengalami muntah dan sakit perut. Jumlah santri yang mengeluhkan kondisi serupa semakin banyak pada Sabtu pagi setelah kegiatan halaqah usai salat Subuh.
“Begitu tidur, pagi tadi setelah Subuh kami selesai halaqah Subuh, itu kami mendapati banyak santri yang muntah-muntah. Nah, mencuatnya itu setelah Subuh,” ujar Faid, Sabtu (15/8/2026).
Melihat kondisi tersebut, pengurus pondok membawa santri yang mengalami keluhan ke puskesmas. Setelah mendapat pemeriksaan awal, sejumlah santri kemudian diarahkan untuk memperoleh penanganan lebih lanjut di IGD RSUD Al-Mulk.
Karena jumlah santri yang membutuhkan penanganan bertambah, sebagian lainnya kemudian dibawa ke RS Bunut.
Faid menyebut dari sekitar 645 santri yang berada di lingkungan pesantren, sebanyak 134 orang mengalami keluhan kesehatan. Meski gejalanya menyerupai keracunan makanan, ia menilai kesimpulan tersebut belum dapat ditetapkan.
“Anak-anak sakit dengan gejala muntah-muntah memang mengarah pada keracunan, tapi belum dirilis secara resmi dari rumah sakit bahwa ini adalah keracunan,” katanya.
Ia menegaskan pihak pesantren tidak ingin berspekulasi mengenai penyebab kejadian. Apalagi, para santri tidak hanya mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), tetapi juga makanan lain yang disediakan pada waktu berbeda.
“134 itu memang bukan angka yang sedikit, tapi saya tidak mau gegabah mengatakan ini keracunan karena itu bukan ranah saya,” tegasnya.
Dinkes Ambil Sampel Makanan
Untuk mengungkap penyebab kejadian, Dinas Kesehatan Kota Sukabumi telah mengambil sejumlah sampel makanan untuk diperiksa di laboratorium.
Menu MBG yang dibagikan pada Jumat antara lain nasi, tumis pakcoy, balado telur ceplok, orek tempe dan susu UHT kemasan. Sampel yang masih tersedia diambil dari sisa makanan di SPPG untuk menjalani pemeriksaan.
Di pesantren tersebut, program MBG disuplai oleh dua SPPG, yakni SPPG Al-Muslim dan SPPG Cemerlang.
Faid mengatakan hasil pemeriksaan sampel makanan nantinya akan menjadi salah satu bahan untuk mengetahui apakah terdapat kaitan antara makanan yang dikonsumsi dengan keluhan kesehatan para santri.
“Jadi kami berusaha untuk melihat ini dengan cara sangat objektif,” ujarnya.
Menurut Faid, program MBG sendiri telah berjalan sekitar tujuh bulan di lingkungan pesantren. Selama pelaksanaan program tersebut, pihaknya mengaku tidak pernah mengalami kejadian serupa.
“Kami belum pernah kejadian apa-apa, baik-baik saja. Menunya bagus, kemudian ketepatan waktu hadirnya selalu tepat waktu. Kami bahagia, alhamdulillah merasa terbantu,” ucapnya.
Pondok Evaluasi Internal
Selain menunggu hasil pemeriksaan laboratorium, pihak pesantren melakukan evaluasi terhadap berbagai aspek di lingkungan pondok. Evaluasi tersebut tidak hanya menyangkut makanan, tetapi juga proses penanganan makanan setelah tiba di pesantren.
Faid menyebut pihaknya telah meminta Dinas Kesehatan Kota Sukabumi turut melakukan investigasi di lingkungan pesantren. Langkah tersebut diharapkan dapat menemukan kemungkinan faktor lain yang perlu dibenahi.
Pihak pondok juga menginginkan adanya edukasi kepada para santri mengenai cara menyimpan dan memperlakukan makanan MBG setelah diterima, sehingga aspek kebersihan dan keamanan makanan tetap terjaga.
“Di pondok pesantren kami ada bagian-bagian tertentu yang terjadi kontaminasi atau yang tidak sesuai standar, itu biarlah menjadi evaluasi untuk kami,” tuturnya.
Sementara itu, kondisi sejumlah santri yang masih dirawat dilaporkan mulai membaik. Sebagian santri juga telah diperbolehkan pulang. Faid menyebut sekitar 10 hingga 15 santri telah kembali ke pondok dalam dua kloter.
Pihak pesantren kini memprioritaskan pemulihan seluruh santri yang mengalami keluhan sekaligus memastikan proses investigasi berjalan secara menyeluruh.
“Kami berharap mudah-mudahan semua pihak bisa melihat ini dengan dingin, kemudian bisa turut mendoakan dan mensupport agar kami berfokus hanya pada dua hal,” kata Faid.
Menurutnya, dua hal utama tersebut adalah memastikan para santri segera pulih dan melakukan evaluasi internal agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.
Dengan demikian, hingga hasil pemeriksaan medis dan laboratorium keluar, pihak Pondok Pesantren Alam Baiti Jannati belum menyatakan bahwa 134 santri tersebut mengalami keracunan akibat makanan MBG. Semua kemungkinan, termasuk faktor lain di lingkungan pesantren, masih dalam proses pemeriksaan. (R.Cking).

