terbit.id Sukabumi - Aksi kenakalan pelajar di bawah umur yang terekam kamera CCTV di depan Mapolsek Cicurug, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, menjadi perhatian setelah seorang siswa yang berada di dalam angkutan kota (angkot) diduga menendang siswa lain mengendarai sepeda motor hingga terjatuh dan menabrak seorang pedagang es. Akibat kejadian tersebut, pedagang es mengalami luka-luka dan masih menjalani perawatan di rumah sakit.
Peristiwa yang diduga melibatkan pelajar SMP Negeri 1 Cicurug dan SMP swasta PGRI Cigombong, Kabupaten Bogor, itu terjadi pada Rabu (7/10/2026), sekitar pukul 14.15 WIB, saat jam pulang sekolah.
Kapolsek Cicurug, Kompol Idji Djubaedi, membenarkan kejadian tersebut. Ia mengatakan, kasus yang diduga dipicu perselisihan antarpelajar itu masih dalam proses penyelidikan kepolisian.
“Benar, kemarin telah terjadi, kalau bisa dibilang tawuran antara siswa SMP Negeri 1 Cicurug dengan SMP swasta, kalau tidak salah dari SMP PGRI Cigombong. Saat ini masih dalam proses penyelidikan,” ujar Djubaedi kepada terbit.id, Kamis (8/10/2026)
Berdasarkan rekaman CCTV dan keterangan awal yang dihimpun kepolisian, kejadian bermula ketika sebuah sepeda motor terlihat mengejar angkot dari arah Aqua menuju Bogor. Di tengah perjalanan, diduga terjadi persinggungan antara pengendara sepeda motor dan penumpang angkot yang kemudian memicu emosi.
Situasi tersebut diduga berujung pada aksi salah seorang pelajar yang berada di dalam angkot. Pelajar itu disebut mencondongkan tubuh ke luar kendaraan sebelum menendang sepeda motor yang berada di dekatnya.
Akibat tendangan tersebut, sepeda motor diduga kehilangan keseimbangan hingga terjatuh. Pada saat bersamaan, kendaraan itu menabrak seorang pedagang es yang berjalan di sekitar lokasi kejadian.
Setelah terjatuh, para pelajar yang berada di sepeda motor tersebut disebut langsung meninggalkan lokasi. Polisi masih menelusuri identitas serta peran masing-masing pihak untuk memastikan rangkaian kejadian secara utuh.
“Kalau melihat CCTV, ada satu sepeda motor tiga siswa yang mengejar angkot. Kemudian mungkin terjadi persinggungan yang menyulut emosi siswa di dalam angkot. Salah satu siswa kemudian menendang sepeda motor hingga oleng dan secara kebetulan menabrak pedagang es,” jelas Djubaedi.
Polisi Periksa 16 Pelajar
Dalam penanganan awal kasus tersebut, Polsek Cicurug telah memintai keterangan sekitar 16 siswa berasal dari SMP Negeri 1 Cicurug yang berada di dalam angkot. Sementara itu, polisi masih melakukan pencarian dan berkoordinasi untuk menelusuri keterlibatan pelajar dari SMP PGRI Cigombong yang berada di wilayah hukum Kabupaten Bogor.
Menurut Djubaedi, informasi mengenai jumlah kendaraan yang dikendarai pelajar SMP PGRI Cigombong simpang siur. Namun, berdasarkan informasi sementara yang diterima kepolisian, satu sepeda motor yang terlibat dalam kejadian tersebut ditumpangi tiga orang.
Pihak kepolisian masih mendalami pemicu perselisihan, kronologi lengkap, serta kemungkinan keterlibatan pihak lain dalam insiden yang melibatkan anak di bawah umur tersebut.
Pedagang Es Masih Dirawat di Rumah Sakit
Sementara itu, pedagang es yang menjadi korban tabrakan masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Medicare. Berdasarkan informasi awal yang diterima kepolisian, korban mengalami luka pada bagian kaki serta benturan di sekitar pelipis dan mata. Korban juga diduga mengalami benturan pada kepala saat kejadian.
“Yang bersangkutan sampai saat ini masih dirawat di Rumah Sakit Medicare. Informasi yang kami terima, korban mengalami luka di kaki, kemudian ada benturan di bagian pelipis, sekitar mata, dan kemungkinan juga mengalami benturan di kepala,” ungkap Djubaedi.
Polisi belum menyampaikan perkembangan lebih lanjut mengenai kondisi terkini korban. Penanganan terhadap para pelajar yang diduga terlibat juga masih menunggu proses penyelidikan dan pendalaman lebih lanjut.
Kasus Akan Dilimpahkan ke Unit PPA Polres
Djubaedi menegaskan bahwa penanganan kasus tersebut akan dilimpahkan kepada Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres yang berwenang menangani perkara dengan melibatkan anak di bawah umur.
Menurutnya, kepolisian masih melengkapi administrasi dan proses laporan sebelum melimpahkan perkara tersebut. Langkah ini dilakukan agar penanganan kasus sesuai dengan kewenangan dan prosedur yang berlaku.
Djubaedi mengatakan, pihaknya juga telah mempertemukan keluarga pelajar yang diduga terlibat dengan keluarga korban. Pertemuan tersebut diharapkan dapat membuka ruang komunikasi antara kedua belah pihak.
Namun, upaya penyelesaian secara kekeluargaan belum dapat dipastikan karena keluarga korban masih berfokus mendampingi anggota keluarganya yang menjalani perawatan.
“Peluang penyelesaian secara kekeluargaan melalui restorative justice masih terbuka. Namun, kita juga harus bijak dalam menangani kasus ini. Korban masih dirawat dan kita belum mengetahui bagaimana perkembangan kondisinya,” kata Djubaedi.
Ia menegaskan bahwa keputusan mengenai mekanisme penyelesaian perkara nantinya harus mengikuti ketentuan hukum dan kewenangan unit yang menangani kasus tersebut.
Orang Tua dan Sekolah Diminta Lebih Peduli
Peristiwa ini kembali menjadi pengingat pentingnya pengawasan terhadap perilaku pelajar, khususnya ketika berada di luar lingkungan sekolah. Perselisihan yang berawal dari dugaan persinggungan di jalan dapat berkembang menjadi tindakan kekerasan yang membahayakan orang lain.
Djubaedi menyebut pihak sekolah telah berkomunikasi dengan kepolisian terkait kejadian tersebut. Ia berharap seluruh pihak, mulai dari sekolah, orang tua, masyarakat hingga aparat, meningkatkan perhatian terhadap pergaulan dan perilaku anak-anak.
“Situasi anak-anak kita seperti ini harus menjadi perhatian bersama. Bukan hanya pihak kepolisian, tetapi juga sekolah, masyarakat, dan orang tua. Intinya, kita semua harus peduli terhadap anak-anak kita,” pungkasnya. (R.Cking).

