terbit.id, Sukabumi - Bodogol Edu Farm di Desa Purwasari, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, membuktikan bahwa potensi desa bisa menjadi daya tarik wisata sekaligus sumber ekonomi masyarakat. Mengintegrasikan peternakan, pertanian, dan keindahan alam, desa wisata ini menawarkan pengalaman berbeda, mulai dari edukasi pertanian hingga petualangan river tubing di aliran Sungai Cileuley.
Potensi tersebut mendapat apresiasi dari Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi, Ali Iskandar, saat mengunjungi Bodogol Edu Farm, Selasa (13/10/2026). Menurutnya, Desa Wisata Purwasari layak dikembangkan karena mampu mengolah potensi lokal menjadi aktivitas produktif yang bernilai ekonomi.
“Bodogol Edu Farm itu menjadi citra wisata yang dikolaborasikan dengan pertanian. Ini bisa menjadi role model untuk dikembangkan di desa-desa lainnya berbasis potensi yang dimiliki,” ujar Ali.
Ia menilai, keunggulan Bodogol Edu Farm bukan sekadar panorama alam dan suasana pedesaan, tetapi juga konsep pertanian terpadu. Kotoran ternak diolah menjadi biogas, kompos, dan briket, sementara sektor pertanian dapat mendukung kebutuhan pakan ternak. Inovasi tersebut dinilai mampu menciptakan nilai tambah sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat.
Meski demikian, Ali menyebut pengembangan fasilitas pendukung atau amenitas, penginapan berbasis rumah warga (homestay), serta produk usaha mikro masih perlu diperkuat. Pemerintah Kabupaten Sukabumi, lanjutnya, telah menyiapkan bantuan keuangan sebesar Rp50 juta sebagai stimulan awal pengembangan river tubing di desa wisata Purwasari.
“Orang kota itu biasanya mencari suasana seperti ini. Kalau rumah warga bisa dijadikan homestay, masyarakat mendapatkan nilai tambah sekaligus kesempatan berinteraksi dengan wisatawan,” jelas Ali Iskandar kepada terbit.id, Selasa (13/10/2026).
River tubing jadi unggulan
Pengelola Bodogol Edu Farm, Akham, mengatakan pengembangan Desa Wisata Purwasari berangkat dari potensi peternakan, pertanian, dan alam yang dimiliki wilayah tersebut. Inisiasi dimulai pada 2021, mulai dieksekusi pada 2023, hingga akhirnya Purwasari memperoleh pengakuan sebagai desa wisata pada 2026.
Salah satu daya tarik utamanya adalah river tubing di Sungai Cileuley yang menawarkan pengalaman menyusuri sungai dengan panorama alam, air yang relatif jernih, serta kombinasi arus tenang dan menantang.
Tersedia dua pilihan jalur. Jalur reguler sepanjang 2 kilometer ditempuh sekitar satu jam dengan tarif Rp50.000 per orang. Sementara jalur panjang mencapai 6 kilometer dengan durasi sekitar tiga jam dan tarif Rp150.000 per orang, yang diperuntukkan bagi pengunjung dewasa pencinta tantangan.
Kegiatan reguler dibuka setiap Sabtu dan Minggu, sedangkan kunjungan pada hari kerja harus melalui pemesanan terlebih dahulu dengan minimal 10 peserta. Menurut Akham, jumlah pengunjung river tubing rata-rata mencapai 50 orang per pekan, bahkan dapat meningkat sesuai agenda kunjungan.
“Daya tariknya ada pada lanskap alam, kualitas air, suasana sejuk, serta perpaduan arus yang tenang dan menantang,” ungkap Akham.
Libatkan pemuda dan warga
Pengembangan wisata ini turut membuka ruang pemberdayaan masyarakat. Pemuda setempat yang tergabung dalam Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dilibatkan sebagai pemandu, pengemudi, dan tim operasional. Warga dari kampung sekitar juga mendapat kesempatan untuk terlibat dalam kegiatan wisata.
Kepala Desa Purwasari, Agus Setiagunawan, menyebut dukungan pemerintah kecamatan dan kabupaten menjadi dorongan bagi desa untuk melanjutkan pengembangan potensi yang telah dirintis selama beberapa tahun.
Ia berharap keberadaan desa wisata tidak hanya menarik kunjungan, tetapi juga memperluas kesempatan usaha dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dari sisi keselamatan, pengelola menyatakan telah menyediakan helm, pelampung, dan ban dengan pelindung ganda bagi peserta river tubing. Pengelola juga menerapkan pembatasan kegiatan ketika debit air dinilai terlalu tinggi serta menempatkan petugas di titik akhir jalur.
Agus menambahkan, pihaknya sedang mengupayakan kerja sama dengan Jasa Raharja terkait perlindungan asuransi bagi kegiatan wisata tersebut.
Dengan perpaduan wisata alam, edukasi peternakan dan pertanian, serta keterlibatan warga, Bodogol Edu Farm berpeluang menjadi contoh pengembangan desa wisata berbasis potensi lokal yang bukan hanya menawarkan rekreasi, tetapi juga mendorong kemandirian ekonomi masyarakat.(R.Cking).

